Socialize

FacebookTwitterYoutube

Kiat Sukses Mengelola Lembaga Tahfidz Al Qur’an

lembaga tahfidz

Bagaimanakah kiat sukses mengelola sebuah lembaga pendidikan tahfidz Al Qur’an?

Jawaban

Lembaga pendidikan tahfiz al-Qur’an akan sukses jika memiliki 3 pendukung utama dalam melestarikan programnya

1. Harus memiliki guru-guru al-Qur’an yang hafal al-Qur’an 30 juz dengan lancar atau paling tidak memiliki hafalan yang tida kalah banyakanya dengan muridnya yang dibimbing, yaitu dengan cara terus berusaha menambah hafalannya setiap hari melebihi target hafalan muridnya. Jika muridnya ditetapkan dalam satu hari menghafal 1 halaman, maka gurunya harus 2 halaman. Jika tidak, maka jangan harap guru sukses membimbing muridnya menghafal dengan baik sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Karena seorang guru, mustahil dapat memberikan ilmu hafalan al-Qur’an kepada muridnya, jika ia senidiri tidak memiliki ilmu bagaimana sukses menghafal al-Qur’an. Sebagaimana tak seorang-pun yang dapat mewujudkan impiannya untuk menjadi orang baik karena infak sebagian hartaya kepada fakir miskin jika ia sendiri tidak memilki sedikitpun uang untuk diberikan. Oleh karena itu, syrata utama bagi kesuksesan pendidikan tahfidz adalah lembaga harus mencari dan menyeleksi para huffadz al-Qur’an. Sebagaimana Allah swt. telah memberikan al-Qur’an ini kepada orang-orang yang telah dipilihNya dalam surat Fatir:32

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا

32. kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,

2. Harus mempunyai donator tetap dan rutin bulanan untuk mensport  berlangsungnya program tahfidz al-Qur’an. Yang dimaksud Donator tetap disini adalah kebaikan para muhsinin untuk menginfakkan sebagian hartanya karena Allah awt. demi berlangsungnya proses program menghafal al-Qur’an yang dikelola oleh sebuah lembaga. Karena itu, lembaga harus berusaha semaksimal mungkin untuk memperluas jaringan informasinya yang sampai kepada masyarakat agar tergugah kesadarannya untuk menjadi investor akhirat (donator tetap) melalui keikutsertaannya dalam menjaga al-Quran bersama para generasi penghafal al-Qur’an calon pembawa panji Islam. Sebagaimana usaha penggalian dana kepada masyarakat  umum untuk menjadi donator,  lembaga pun juga harus melibatkan wali santri untuk menjadi anggota donator lembaga, baik secara ijbar (wajib) atau tatowwu’ (suka rela) menurut kemampuannya, Atau minimal mencarikan donator dan menginformasikan kepada warga sekitar atau sanak familinya tentang keberadaan lembaga tahfidz dan pentingnya menjadi investor akhirat. Mengapa demikian? Karena pada prinsipnya, kesuksesan dalam perjuangan itu tergantung dari dua hal; yaitu harta dan jiwa. Tanpa harta, jiwa yang semangat untuk berjihat dijalan Allah pasti akan loyo, begitu pula sebaliknya. Karena itu Allah swt. selalu menyertakan harta dan jiwa dalam al-Qur’an untuk mengisyaratkan bahwa kesuksesan dalam berjihad hanya dengan mensinergikan antara keduanya dan tidak memisahkannya, seperti firman Allah dalam surat al-Taubah:20

الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)

20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Oleh karena itu, Jangan sekali-kali santri dibebani untuk memikirkan kebutuhannya sehari-hari, makanku dan tidurku nanti bagaimana?  ustadz/h nanti datang menyimak atau tidak?

Begitu pula halnya dengan jaminan bagi kebutuhan hidup seorang guru bersama keluarganya. Jangan sampai dibebani untuk mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarganya, disebabkan karena minimnya mukafaah yang diberikan oleh lembaga. Hal ini disebabkan Karena jika mukafaah guru dibawa standar kebutuhan sehari-hari, pasti konsentrasinya akan pecah, sehingga menyebabkan ia tidak betah dan tidak kerasan mengajar dilembaga tersebut. Suatau saat pasti akan mencari tempat pekerjaan lain yang lebih menjanjikan bagi kecukupan kebutuhan hidupnya bersama istri dan anak-anaknya. Seorang guru butuh beli rumah, butuh kendaraan dan bengsinnya, butuh pengobatan ketika sakit dst. Karenanya, jika kebutuhannya dicukupi dengan mukafaah yang cukup, maka dapat dipastikan dia akan betah mengajar secara istiqomah, sehingga muridpun akan terus termotifasi. Tapi sebaliknya,  jika dibawa standar kebutuhan, maka jangan harap ia bisa istiqamah dalam mengajar. Apabila seorang guru sering mbolos, maka jangan salahkan guru, dan jangan salahkan murid jika tidak sukses dalam mengahafal. Murid tergantung gurunya, jika gurunya istiqomah datang maka murid akan istiqomah pula. Jika gurunya sering ditukar karena keluar masuk, maka hafalan murid akan terus tertukar-tertukar dengan ayat yang lain alias mbulet keluar masuk.

3. Lembaga yang mempunyai perhatian, kepedulian dan dukungan sepenuh hati terhadap guru dan murid-muridnya yang berada di bawa naungannya dengan cara terus memantau dan memikirkan perkembangan program tahfidz, sekaligus menfasilitasi dua hal di atas. Karena betapa banyaknya program tahfidz yang gagal, disebabkan karena lembaga yang memilki program tersebut tidak peduli terhadap nasib guru-guru dan tidak mau tahu proses dan perkembangan hafalan anak2. Oleh karena itu, sebaik-baik cara bagi lembaga tahfidz al-Qur’an adalah harus mendukung dan memantau sepenuhnya bagi kesuksesan program hafalan adalah harus menarget program, seperti contohnya siswa-siswi harus hafal setiap satu bulannya 1 juz. Jika satu bulan tidak hafal juga, maka berarti ada yang bermasalah disini, apakah yang bermaslah disini gurunya atau muridnya, jika gurunya, maka harus dipanggil dan diperingatkan bahkan jika perlu dikenakan sangsi yang mendidik seperti diputus mukafaahnya, atau dihukum tidak boleh keluar dari asrama sebelum membaca seluruh hafalannya sebanyak 15 kali atau 30 kali dst.

 Wallahua’lam bis shawab

Posted by on April 18, 2012. Filed under Al-Qur'an,Konsultasi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>