Socialize

FacebookTwitterYoutube

Kapan Batasan Menyusui Bayi?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr.wb. Ustadz, sebenarnya berapa sih batasan umur seorang anak masih diperbolehkan disusui oleh ibunya? Jika melewati batas tersebut, apa hukumnya? Demikian pula, kapankah seseorang dikatakan haram dinikahi karena satu susuan? Jazakumullah. Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wr wb.

Penyusuan yang sempurna seorang ibu untuk bayinya itu sampai batas umur bayinya dua tahun, sebagaimana firman Allah dalamsuratAl-Baqarah: 233 yang artinya: “Paraibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”

Dan penyusuan yang terjadi setelah masa dua tahun – dengan tidak ada batasan waktu – tetap diperbolehkan, karena memang tidak ada larangan untuk itu, dan para ulama menganggap penyusuan setelah masa dua tahun tersebut sebagai makanan tambahan.

Dan oleh karena batas sempurnanya penyusuan itu dua tahun, maka batas waktu tersebut kemudian menjadi salah satu alasan munculnya hukum persusuan (radha’) yang mengakibatkan hukum tahrim (terjadinya hubungan mahram).

Hubungan mahram yang disebabkan persusuan berlaku bagi anak yang disusui dan ibu susuannya (dengan seluruh mahramnya), apabila sifat, ukuran dan masa persusuannya memenuhi ketentuan syariat, yaitu sebagai berikut :

1. Sifat persusuan yang menimbulkan hukum tahrim (mahram) ialah apabila seorang bayi menghisap air susu dengan mulutnya dari puting payudara seorang ibu.

Untuk itu, apabila seorang bayi meminum air susu dari seorang ibu susuan dengan memakai dot atau botol atau dicampurkan dengan makanan lain, tidak dapat menimbulkan hukum tahrim. Hal itu berdasarkan firman Allah yang artinya :

“Ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri“ (QS. 4:23)

Menurut bahasa, dikatakan menyusui apabila seorang ibu meletakkan puting payudaranya dimulut yang disusuinya.

2. Ukuran persusuan yang dapat menyebabkan hukum tahrim adalah apabila persusuan tersebut terjadi minimal lima kali susuan, bukan sekali atau dua kali susuan. Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut yang artinya : “Sekali isapan dan dua kali isapan tidaklah mengharamkan (adanya pernikahan).” (HR. Muslim)Yang menjadikan haram (untuk dinikahi) adalah lima kali susuan yang jelas.” (HR. Muslim)

Bahkan dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa hadits ini merupakan ayat Al-Qur’an yang dinasakh (dihapus) bacaannya tetapi hukumnya masih tetap berlaku.

3. Persusuan yang bisa meyebabkan hukum tahrim adalah persusuan yang terjadi pada saat anak yang disusui belum sampai berumur dua tahun, berdasarkan firman Allah :

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. “ (QS. 2:233)

Dalam hadits Tirmidzi dan Hakim dari Ummu Salamah, Nabi saw bersabda yang artinya : “Persusuan tidak menimbulkan hukum tahrim kecuali ketika bayi berusia dibawah dua tahun…”

Wallahu a’lam bisshawab. Wassalamu ‘alaiku wr wb.

Posted by on February 28, 2012. Filed under Fiqh,Konsultasi,Pernikahan & Keluarga. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>