Socialize

FacebookTwitterYoutube

Hukum Menikahi Wanita Hamil

Assalamualaikum wr wb.

Ustadz, bagaimana hukum pernikahan yang calon wanitanya sudah hamil duluan sebelum akad baik dengan laki-laki yang telah menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (bukan yang menghamilinya)?

1. Apakah pernikahan itu sah menurut Al-quran & Sunnah?
2. Apakah setelah akad pasangan tersebut halal melakukan hubungan suami istri?
3. Apakah perlu akad nikah ulang?
4. Apakah hukum menghadiri undangan pernikahan yang secara jelas kita tahu bahwa wanitanya telah hamil akibat zina?
Mohon jawabannya dengan dalil-dalil Al-quran, Sunnah & sirohnya. Jazakumullah. Wassalamu’alaikum.

Jawaban

Wa’alaikumussalam wr wb.

1. Apabila yang menikahi wanita hamil tersebut adalah orang yang menghamilinya, insya Allah nikahnya sah berdasarkan firman Allah dalam QS. 24:3:

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.”

Tetapi apabila yang menikahinya bukan orang yang menghamilinya, maka nikahnya tidak sah, kecuali bila pernikahannya terjadi setelah wanita tersebut melahirkan dan bertaubat dari dosanya. Ini didasarkan pada firmna Allah dalam QS. 65:4:

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

2. Boleh dan tidaknya melakukan hubungan suami istri akan tergantung pada sah dan tidaknya pernikahan. Oleh karena itu jika nikahnya sah (yakni bila yang menikahinya adalah yang menghamilinya) maka boleh melakukan hubungan suami istri. Tetapi bila tidak sah (yang menikahi bukan yang menghamili), maka haram untuk melakukan hubungan suami istri.

3. Kalau pernikahannya sudah sah, maka tidak perlu mengulang akadnya.

4. Menghadiri undangan pernikahan yang sah secara syar’i, boleh selama tidak ada kemungkaran pada acaranya.

Wallahu a’lam bisshawab. Wassalamu ‘alaikum wr wb

Posted by on February 27, 2012. Filed under Pernikahan & Keluarga. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

One Response to Hukum Menikahi Wanita Hamil

  1. Jalil Reply

    February 6, 2013 at 11:05 pm

    Maaf Ustads,
    kalo jawabannya sah,
    berarti kita berani ya mengambil resiko untuk menerima lebih banyak lagi nikah karna malu terlihat hamil besar lainnya, puluhan, ratusan, bahkan ribuan mungkin.
    terus jika saya lihat dari keterangan ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan Abu Hanifah, tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal, yaitu menurut Imam Syafi’iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima’ dengannya setelah akad, apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima’ dengannya, apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima’ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil.
    jadi imam mana yang membolehkan menikahi waniita saat hamil, atau karena malu terlihat hamil nantinya,
    walloohu A’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>