Socialize

FacebookTwitterYoutube

Kajian Ilmu Faroid (Ilmu Pembagian Waris)

ilmu faroid

Ustadz, mohon dimuat kajian tentang ilmu faroidh disertai lampiran silsilah (daftar) ahli waris dan bagiannya

(Imam-Sidoarjo)

Pendahuluan  ;

Ilmu Faroidh ( ilmu yang membahas tentang warisan ), merupakan  salah satu disiplin ilmu syari’at yang sangat mulia, yang Allah sendiri berkenan menjelaskannya secara langsung dan jelas  dalam Al –Qur’an

Banyak nash hadits yang menganjurkan dan menjelaskan keutamaan mempelajari ilmu tersebut, dengan tujuan yang jelas yaitu agar hukum dan syari’at Allah tetap tegak, Nabi saw bersabda :

تعلموا  الفرائض  و علموها  فانها نصف العلم و هو ينسي و هو أول شيء  ينزع  من أمتي

Artinya : “ pelajarilah ilmu Faroidh dan ajarkanlah, karena ilmu faroidh merupakan separuh ilmu dan ia akan dilupakan dan ia ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku “ ( HR. Ibnu Majah dan Daru Quthni )

 

Ma’na Faroidh  ;

Faroidh adalah bentuk jamak dari kata faridhoh dan berasal dari kata al fardh yang artinya bagian atau jatah, sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas :

ألحقوا الفرائض  بأهلها  فما بقي فهو لأولي  رجل  ذكر

Artinya : “ Berikan warisan kepada yang berhak, jika masih tersisa maka harta itu untuk keluarga lelaki terdekat “ ( HR. Bukhori dan Muslim )

Sedangkan Ilmu Faroidh yang juga biasa disebut dengan ilmu Mawaariits atau ilmu Miraats, menurut pengertian syar’i ialah ilmu yang mempelajari tentang siapa yang berhak mewarisi dan siapa yang tidak berhak, serta bagian dari setiap ahli waris

 

Beberapa Istilah dalam ilmu Faroidh ;

Ada beberapa istilah penting yang sering dipakai dalam pembahasan ilmu Faroidh, diantaranya  :

1.      Fardh, bentuk jamaknya Furudh, yang artinya bagian atau jatah yang sudah ditetapkaan berdasarkan syari’at

2.      Ash-haabul Furudh, yaitu golongan yang pertama kali/yang paling berhak mendapatkan bagian harta warisan. Merekalah fihak yang bagiannya telah ditentukan dalam Al-Qur’an, As-Sunah dan Ijma’

3.      ‘Ashabah, adalah pewaris harta yang dalam Al-Qur’an tidak ditetapkan bagiannya secara khusus dengan jumlah tertentu. Dan mereka inilah fihak yang hanya menerima harta yang tersisa setelah harta waris dibagikan kepada Ash-haabul Furuudh

4.      Waarits, yaitu ahli waris ialah setiap yang berhak menerima harta warisan, baik dari Ash-haabul Furuudh atau ‘Ashabah

5.      Miraats, yaitu berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup

6.      Tarikah, ialah segala sesuatu yang ditinggalkan pewaris ( muwarrits ) untuk ahli waris ( waarits ) berupa harta warisan ( mauruuts ), yang biasanya juga disebut dengan miraats atau turaats atau irth

7.      Ashl, bentuk jamaknya ushuul, ialah bapak, ibu, kakek, nenek dan seterusnya ke atas

8.      Far’, bentuk jamaknya furuu’, ialah anak dan kebawahnya

9.      Hawaasyi, bentuk jamak dari haassyiyah, ialah cabang dari ashl, seperti saudara laki-laki atau saudara perempuan dari mayit atau anak saudaranya, atau paman dari fihak bapak dan putra-putra pamannya

10.  Kalaalah, ialah mayit yang tidak mempunyai anak dan bapak

 

Kewajiban yang terkait dengan tarikah/harta peninggalan ;

Hak-hak yang harus ditunaikan terkait dengan harta peninggalan seorang yang meninggal adalah :

1.      Biaya perawatan jenazah

2.      Utang piutang

3.      Wasiat, dengan batasan maksimal sepertiga

4.      Warisan

Tingkatan Ahli Waris ;

Warisan diberikan kepada ahli waris berdasarkan urutan tingkatannya ( kepada tingkat pertama , kedua dan berikutnya ), bila tingkat pertama tidak ada , baru kepada tingkat yang berikutnya

Berikut ahli waris berdasarkan urutan dan derajatnya :

1.      Ash-habul Furudh, golongan inilah yang pertama diberi bagian harta warisan sebelum yang lainnya, yaitu mereka yang ditetapkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ mendapatkan bagian dari harta waris dengan jumlah tertentu. Mereka ada dua belas orang ;  4 laki-laki dan  8 perempuan, yaitu :

a.       Bapak, Kakek keatas, Suami dan Saudara laki-laki seibu

b.      Istri, Anak perempuan, Saudari kandung, Saudari seayah, Saudari seibu, Putri anak laki-laki, Ibu dan Nenek keatas

2.      ‘Ashabah An-Nasabiyah, setelah ash-haabul furuudh, golongan inilah yang mendapat giliran ke dua untuk mendapatkan bagian dari harta warisan, yaitu kerabat yang mempunyai hubungan nasab dengan mayit yang berhak mengambil seluruh harta waris bila sendiri, dan berhak mendapatkan sisa harta waris setelah dibagi kepada Ash-habul Furuudh.              Dan mereka ada 3 kelompok :

a.       ‘Ashabah Bin-nafsi ( laki-laki ), mereka ialah :

1.      Fihak Anak, yaitu Anak kebawah

2.      Fihak Bapak, yaitu Bapak keatas

3.      Fihak Saudara, yaitu Sudara kandung, Saudara sebapak, Anak paman kandung, Anak paman sebapak kebawah

4.      Fihak Paman, yaitu Paman kandung, Paman sebapak, Anak paman kandung, Anak paman sebapak kebawah

b.      ‘Ashabah Bil Ghoiri (  Perempuan ), mereka ialah :

1.      Anak putri, apabila mempunyai saudara laki-laki

2.      Putri anak laki-laki, apabila mempunyai saudara laki-laki

3.      Saudari kandung, apabila mempunyai saudara laki-laki

4.      Saudari sebapak, apabila mempunyai saudara laki-laki

c.       ‘Ashabah Ma’al Ghoiri, yaitu  Saudari-saudari kandung atau sebapak, apabila pewaris mayit  mempunyai putri dan tidak mempunyai putra

3.      Dikembalikan ke Ash-habul Furuudh/penambahan jatah bagi Ash-habul Furudh ( selain suami istri )

Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada Ash-haabul Furuudh dan ‘Ashabah diatas masih juga tersisa, maka sisa tersebut diberikan/ditambahkan kepada Ash-habul Furuudh selain suami istri ( sesuai dengan bagian masing-masing ), hal tersebut dikarenakan hak waris suami istri disebabkan adanya ikatan pernikahan, sedangkan hak waris bagi Ash-habul Furuudh selain suami istri disebabkan karena nasab, yang karenanya lebih berhak dibandingkan yang lainnya

4.      Uulul Arhaam/kerabat, yaitu kerabat mayit yang ada kaitan rahim – dan tidak termasuk Ash-habul Furuudh dan juga bukan ‘Ashabah -, seperti paman dan bibi dari fihak ibu, bibi dari fihak ayah.

Apabila amayit tidak mempunyai kerabat sebagai Ashaabul Furuudh maupun ‘Ashabah, maka para kerabat yang masih mempunyai ikatan rahim dengannya berhak mendapatkan waris, berdasarkan firman Allah :

و أولوا الأرحام  بعضهم أولي  ببعض

         Artinya : Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak ( waris mewarisi )  ( QS. 33 : 6 )

Dan sebagaimana sabda Rasulullah saw :

الخال  وارث  من  لا  وارث  له

Artinya : “ Paman dari fihak ibu adalah pewaris bagi yang tidak mempunyai ahli waris :” ( HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah , Hakim dan Ibnu Hibban )

5.      Dikembalikan/ditambahkan kepada bagian suami istri

6.      ‘Ashabah karena sebab, ada beberapa bentuk yang disebut dengan ‘Ashabah karena sebab :

a.       Orang yang memerdekakan budak, tetapi untuk bagian ini tidak ada lagi pada masa kini

b.      Orang yang diberikan wasiat lebih dari sepertiga harta warisan ( selain ahli waris )

c.       Baitul Maal, Rasulullah saw bersabda :

         الله  و  رسوله  مولي  من  لا  مولي  له

Artinya  : “ Allah dan Rasul-Nya merupakan maula bagi yang tidak mempunyai maula “,  maksudnya  ialah pewaris bagi yang tidak mempunyai ahli waris  ( HR. Ahmad dan yang lainnya).

 

Sebab-sebab  hak waris ;

Ada 3 hal yang menjadi sebab munculnya hak waris menurut yang disepakati oleh para Ulama’, yaitu :

1.      Hubungan Nasab, bentuk hubungan ini ada tiga  :

a.       Ushuul, yaitu jamak dari ashl yang artinya Bapak dan Ibu, berikut yang diatas mereka, yaitu Kakek, Buyut dan seterusnya ( dari jalur laki-laki ), kakek dari ibu tidak termasuk di dalamnya

b.       Furuu’, yaitu jamak dari far’, ialah Putra dan Putri dan yang dibawah mereka, seperti Cucu dan seterusnya ( yang dari jalur laki-laki ). Putra dari anak perempuan tidak termasuk di dalamnya

c.       Hawaasyi, yaitu setiap yang punya hubungan nasab peranakan dari mayit, dari fihak bapaknya, atau setiap furuu’ dari ushuul mayit. Mereka termasuk saudara dan saudari mayit, anak-anak mereka, paman, bibi dan anak-anak mereka. serta setiap nasab kebawah

2.      Hubungan Pernikahan, yaitu hubungan pernikahan yang sah, meskipun belum terjadi hubungan suami istri

3.      Hubungan Walaa, yaitu kepemilikan hak waris yang penyebabnya adalah karena seseorang telah memerdekakan budaknya

Hal-hal yang menghalangi hak waris  ;

Hal yang bisa menghalangi seseorang mendapatkan haknya sebagai pewaris adalah sebagai berikut:

1.       Budak, Seseorang yang berstatus sebagai budak, tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya, demikian juga sebaliknya, sebab segala sesuatu yang dimiliki seorang budak secara langsung menjadi milik tuannya

2.       Pembunuhan, seorang yang membunuh fihak yang akan mewariskan, tidak berhak mendapatkan warisan, Rasulullah saw bersabda :

ليس  للقاتل  من  الميراث  شيء

Artinya : “ Tidak ada hak waris sedikitpun bagi si pembunuh “ ( HR. Nasai dan Daru Quthni )

3.       Perbedaan Agama, Seorang Muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh non Muslim, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

لا  يرث  المسلم  الكافر  و لا يرث  الكافر  المسلم

Artinya : “ Orang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim “ ( HR. Jama’ah kecuali Nasai )

Rukun dan Syarat sahnya pewarisan  ;

Rukun waris  :

1.      Pewaris, yaitu orang yang meninggal dunia atau yang diangap telah meninggal dunia

2.      Ahli waris, yaitu yang berhak untuk menerima harta peninggalan mayit

3.      Harta warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan mayit

Syarat-syarat pewarisan :

1.      Meninggalnya seseorang, baik secara hakiki maupun secara hukum

2.      Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia

3.      Tidak adanya halangan yang menghalangi pewarisan

Penggolongan Ahli Waris  ;

A.    Ahli waris dari golongan laki-laki :

Orang yang berhak mendapatkan warisan dari kaum laki-laki ada lima belas  :

1.      Anak laki-laki

2.      Cucu laki-laki ( dari anak laki-laki ) dan seterusnya kebawah

3.      Bapak

4.      Kakek ( dari fihak bapak ) dan seterusnya ke atas ( dari fihak laki-laki

      saja )

5.      Saudara kandung laki-laki

6.      Saudara laki-laki seayah

7.      Saudara laki-laki seibu

8.      Anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki dan seterusnya kebawah

9.      Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah

10.  Paman ( saudara kandung bapak )

11.  Paman ( saudara bapak seayah )

12.  Anak laki-laki  dari paman ( saudara kandung ayah )

13.  Anak laki-laki paman  ( saudara bapak seayah )

14.  Suami

15.  Laki-laki pemerdeka budak

 

 

 

B.     Ahli waris dari golongan wanita :

Adapun ahli waris dari kaum wanita ada sepuluh :

1.      Anak perempuan

2.      Ibu

3.      Anak perempuan ( dari keturunan anak laki-laki )

4.      Nenek ( ibu dari ibu )

5.      Nenek ( ibu dari bapak )

6.      Saudara kandung perempuan

7.      Saudara perempuan seayah

8.      Saudara perempuan seibu

9.      Istri

10.  Perempuan pemerdeka budak

 Pembagian warisan menurut Al-Qur’an  ;

Jumlah bagian yang telah ditentukan Al-Qur’an ada enam macam  :

1.      Separuh  ( ½  )

2.      Seperempat  ( ¼  )

3.      Seperdelapan  ( 1/8  )

4.      Dua pertiga   ( 2/3  )

5.      Sepertiga  ( 1/3  )

6.      Seperenam  (  1/6  )

Perlu diketahui bahwa yang berhak mendapatkan warisan tersebut dalam Al-Qur’an, terbagi menjadi dua kelompok ;  1.  Ash-haabul Furuudh   2.  ‘Ashabah.

I.  Ash-haabul Furuudh  ;

    Yaitu mereka yang berada di urutan pertama dalam pembagian harta warisan, yang   bagiannya telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’, dengan rincian ebagai berikut  :

     1.  Ash-haabul Furuudh yang berhak mendapatkan ½   dari harta warisan  :

           a. Suami, dengan syarat apabila yang meninggal ( istri ) tidak mempunyai keturunan, Allah befirman :

                    Artinya  : Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.  ( QS. 4 : 12 )

b.      Anak perempuan kandung, dengan syarat :

1.      Apabila yang meninggal tidak mempunai anak laki-laki

2.      Apabila anak perempuan tersebut anak tunggal

Allah berfirman :

Artinya :  Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta.   ( QS. 4 : 11 )

b.      Cucu perempuan ( dari anak laki-laki ), dengan syarat :

1.      Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki

2.      Apabila hanya seorang

3.      Apabila yang meninggal tidak mempunyai keturunan

Dalilnya sama denga yang sebelumnya

c.       Saudara kandung perempuan, dengan syarat  :

1.        Ia tidak mempunyai saudara kandung laki-laki

2.        Ia hanya seorang diri

3.        Yang meinggal  tidak mempunyai ayah atau kakek dan tidak mempunyai keturunan

 Dalilnya firman Allah :

Artinya : Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)[387]. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya. ( QS. 4 : 176 )

d.      Saudara perempuan seayah, dengan syarat  :

1.      Apabila ia tidak mempunyai saudara laki-laki

2.      Apabila hanya seorang diri

3.      Yang meningal tidak mempunyai saudara kandung perempuan

4.      Yang meninggal tidak mempunyai ayah atau kakek dan tidak mempunyai anak

             Dalilnya dalam QS.  4 : 176 da Ijma’

2.    Ash-haabul Furuudh yang berhak mendapat ¼  :

a.       Suami, dengan ketentuan apabila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dari anak laki-laki, baik anak atau cucu tersebut dari keturunannya atau dari keturunan suami yang lain, berdasarkan firman Allah :

Artinya : Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya   ( QS. 4 : 12 )

b.      Istri, dengan ketentuan apabila suami tidak mempunyai anak atau cucu, baik anak tersebut lahir dari rahimnya atau rahim istri suaminya selain dirinya, berdasarkan firman Allah :

  Artinya : Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan  jika kamu tidak mempunyai anak.  ( QS. 4 : 12 ).

 3.    Ash-haabul Furuudh yang berhak mendapatkan bagian 1/8  ;

Yang berhak memperoleh bagian 1/8 dari ash-haabul furuudh hanyalah istri, dengan ketentuan apabila suami mempunyai anak atau cucu baik yang lahir dari rahimnya atau dari rahim istrinya yang lain, berdasarkan firman Allah :

Artinya Jika kamu mempunyai anak, Maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan  ” ( QS. 4 : 12 ).

4.    Ash-haabul Furuudh yang berhak mendapatkan bagian 2/3 :

a.       Dua anak perempuan kandung atau lebih, dengan syarat tidak mempunyai saudara laki-laki

b.      Dua orang cucu perempuan keturunan anak lai-laki atau lebih, dengan syarat :

1.      Yang meninggal tidak mempunyai anak kandung

2.      Yang meninggal tidak mempunyai dua orang anak kandung perempuan

3.      Dua cucu putri tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki

c.       Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih, dengan syarat :

1.      Yang meninggal tidak mempunyai anak dan ayah atau kakek

2.      Dua saudara kandung perempuan tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki

3.      Yang meninggal tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki

d.      Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih, dengan syarat :

1.      Yang meninggal tidak mempunyai anak, ayah atau kakek

2.      Kedua saudara perempuan seayah itu tidak mempunyai saudara laki-laki seayah

3.      Yang meninggal tidak mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki atau saudara kandung

5.    Ash-haabul Furuudh yang berhak mendapat bagian 1/3 :

a.       Ibu, dengan syarat :

1. Yang meninggal tidak mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki

2.  Yang meninggal tidak mempunyai dua orang saudara/i atau lebih, baik sekandung atau seayah atau seibu  ( Q. 4 : 11 )

b.      Dua saudara/i seibu, dengan syarat :

1.  Yang meninggal tidak mempunyai anak, ayah atau kakek

2.  Jumlah saudara yang seibu itu dua orang atau lebih ( QS. 4 : 12 )

6.    Ash-haabul Furuudh yang berhak mendapat bagian 1/6  :

a.       Ayah, dengan syarat fihak yang meninggal mempunyai anak ( QS. 4 : 11 )

b.      Kakek ( Bapak dari ayah ), dengan ketentuan apabila yang meninggal mempunyai anak laki-laki atau perempuan, atau cucu laki-laki dari keturunan anak dengan syarat ayah mayit sudah tidak ada

c.       Ibu, dengan syarat :

1.       Yang meninggal mempunyai anak atau cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki

2.       Yang meninggal mempunyai dua orang saudara/i atau lebih, baik sekandung, seayah atau seibu ( QS. 4 : 11 )

d.      Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki seorang atau lebih, dengan syarat apabila yang meninggal mempunyai satu anak perempuan

e.       Saudara perempuan seayah satu orang atau lebih, dengan syarat apabila yang meninggal mempunyai seorang saudara kandung perempuan

f.       Saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu ( maing-masing akan mendapatkan 1/6 ), dengan syarat  :

1.      Yang meninggal tidak mempunyai pokok ( kakek ) dan cabang ( anak )

2.      Saudara laki-aki atau perempuan seibu tersebut sendirian

g.      Nenek asli ( dari jalur ayah atau ibu/ baik satu atau lebih ), dengan syarat apabila yang meninggal tidak mempunyai ibu

II.  Ashabah  ;

      Golongan kedua yang mendapatkan hak warisan yaitu ‘ashabah.

      Berbeda dengan ash-haabul furuudh yang menerima warisan dengan jatah yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an, As-sunnah atau Ijma’, ‘ashabah menerima bagian yang tersisa, setelah masing-masing dari ash-haabul furuudh menerima bagiannya

Diantara dalil yang menyatakan bahwa ‘ashabah berhak mendapatkan waris ialah firman Allah dalam surat 4 : 176

Artinya :   Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)[387]. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak. ” ( QS. 4 : 176 )

Posted by on May 3, 2012. Filed under Waris. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>