Socialize

FacebookTwitterYoutube

Mengapa Kita Susah untuk Berubah

menyerah untuk berubah

Saya tertarik menulis bagian ini setelah terinspirasi dari riset yang dilakukan oleh JAGDISH N. SHETH tentang kebiasan destruktif yang telah menghancurkan perusahaan-perusahaan besar yang mapan.

Dari tujuh kebiasaan yang ditemukan Jagdish N. Sheth, yang kemudian ditulisnya dalam buku berjudul THE SELF DESTRUCTIVE HABITS OF GOOD COMPANIES.  Keempat kebiasaan destruktif yang saya maksud adalah:

Pertama          : penginkaran terhadap realitas yang sudah jauh berubah

Kedua             : arogansi, enggan menerima umpan balik

Ketiga             : sikap puas diri

Keempat        : tidak menyadari adanya persaingan

Mari kita analisa satu persatu

A.    Penginkaran terhadap realitas

Orang-orang disekitar kita yang tetap saja tidak mau melakukan perubahan dalam kehidupan ekonominya umumnya menginginkari kenyaatan lingkungan kerjanya yang sudah jauh berubah. Mereka bisa saja menyadari atau tidak menyadari adanya perubahan itu. Tiba-tiba mereka merasa jauh tertinggal oleh orang-orang disekitarnya, mereka menyerah dengan keadaan itu.

B.     Tidak mau menerima umpan balik

Secara filosofis sering dikatakan, kita diberi dua telinga oleh Tuhan dan hanya dianugerahi satu mulut tujuan agar kita lebih sering membuka diri dengan cara menerima nasehat, umpan balik, saran dan kritik membangun daripada mengkritik, menyalahkan, menggurui dan sebagainya.

Sederhana saja alasannya. Otak kita hanya satu. Jadi pemahaman terhadap realitias kehidupan tidak akan selengkap pemahaman dan pengertian orang lain, yang memang mereka jauh lebih banyak.

Jadi ketika sejumlah orang tidak mau berubah, ini lebih disebabkan ketidakpahaman bahwa umpan balik, saran dan kritik sejumlah orang jauh lebih menguntungkan dari sekedar pemahaman dan persepsi dir kita sendiri terhadap berbagai problem.

C.    Sikap puas diri

Sikap ini membuat sejumlah orang merasa sudah cukup dengan apa yang sudah dicapai. Sikap ini menciptakan rasa tidak perlu lagi berubah, karena semua yang dibutuhkan sudah tersedia.

D.    Tidak menyadari adanya persaingan

Kompetensi, persaingan, adu hebat, cepat-cepatan atau apapun istilahnya menciptakan rangsangan kesadaran untuk memenangkan kompetensi atau persaingan itu. Sebaliknya kehidupan yang berjalan datar-datar saja, tanpa ada persaingan membuat banyak orang tidak terdorong dan tidak tertantang melakukan sesuatu dengan cara terbaik dan paling baik dlam hidupnya.

Posted by on April 25, 2012. Filed under Pengembangan Diri. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>